وَرَهْبَانِيَّةً
ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاء رِضْوَانِ اللَّهِ
"Dan
mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada
mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari
keridhaan Allah" (QS.Al Hadid : 27)
Emoh kawin
dengan tidak sempat kawin hingga akhir hayat kiranya amat jauh berbeda
maknanya. Benar ada beberapa ulama yang hingga akhir hayatnya tidak sempat
menikah oleh sebab beberapa faktor keadaan yang menekan, seperti ia tertekan
dari musuh-musuh islam sehingga harus dipenjara hingga ajal menjemputnya
sebagaimana Syaikh al Islam Ibnu Taimiyyah-rahimahullah ta’ala-. Namun
ulama islam yang mulia ini bukan bersikap emoh kawin atau merahibkan
diri sebagaimana pendeta Kriten Nasrani dan beberapa budha Hindusme. Beliau
bukan bersikap monastisisme (mengharamkan diri untuk menikah), melainkan tidak
berkesempatan untuk menikah oleh sebab ajal merenggutnya sebelum ia mempunyai
kesempatan.
Ada beberapa aliran sesat dalam
keagamaan sebagaimana orang-orang Nasrani, Budha, dan beberapa aliran sufi
ekstrimis yang mengharamkan nikah pada diri mereka. Sehingga mereka beraqidah
(keyakinan) bahwa dengan membujang atau tidak menikah mereka akan mulia disisi
Tuhan dan akan semakin bertaqwa dan
meningkatkan derajat keagamaanya. Namun hal ini dibantah oleh Allah ta’ala
langsung dalam kitabnya yang suci, sebagaimana dijelaskan dalam QS.Al Hadid
ayat 27.
Mutiara
Tafsir
رَهْبَانِيَّةً maksudnya adalah tabattul, yaitu
meninggalkan semua kelezatan dan kenikmatan duniawi dan memfokuskan diri pada
Allah dengan hanya beribadah, dengan maksud mencari ridho Allah. Dan kemudian tabattul
ini diingkari oleh Allah dengan kalimat مَا
كَتَبْنَاهَا “tidak mewajibkannya” maksudnya tidaklah
Allah membuat syariat yang seperti itu (tabattul). ابْتَدَعُوهَا “mereka mengada-ngadakan” maksudnya mereka
adalah para pelaku tabattul, yang dimana mereka membuat bid’ah dalam
rangka mengabdi pada Allah (ibadah). Tabattul adalah suatu bid’ah dalam
agama, sedang bid’ah dalam agama adalah sesat dan setiap kesesatan ini adalah
neraka tempatnya.
Bid’ah tabattul ini diingkari
dan tidak diakui dalam agama yang berkonsekuensi tidak bisanya digunakan untuk
mendekatkan diri pada Allah atau ibadah. Justru ketika ada manusia mengamalkan
bid’ah, ia akan jauh dari Allah, tidak mendapat pahala (sia-sia) dan bahkan
mendapat dosa. Mencari ridho Allah adalah dengan cara yang dibenarkan dan
diakui oleh Allah, bukan dengan mengada-ada tata cara sendiri atau membuat syariat
atas sekehendak hati tanpa ada dasar dari Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini juga
sebagai dalil untuk mencela para pelaku bid’ah dan mubtadi’ (pembuat
bid’ah/pengajar bid’ah).
Ayat ini juga menerangkan akan hakikat
bid’ah, yaitu setiap perkara yang diada-adakan manusia dalam rangka untuk beribadah,taqarrub
(medekatkan diri pada Allah), dan syariat atau syiar dalam agama. Yang dimana
kesemuanya itu tidak ada pengakuan dari Allah dan Rasul-Nya (-maksudnya adalah
tidak ada keterangan/dalil dari Nash [al Qur’an dan Al Hadis]- atau contoh dari
Rasulullah saw)
Rasulullah
saw bersabda : “barang siapa yang membenci sunnahku maka dia bukan termasuk
dari golonganku’.” (Shahih Bukhari No : 5063)
Makna ”bukan dari golonganku” adalah
dia enggan menjalankan Sunnah, petunjuk dan jalanku (golongan ini tidak mau
menikah tapi tidak sampai mengharamkan nikah). Dan adapula yang mengatakan
bahwa ia telah kafir (bukan golongan umat Muhammad saw ) oleh sebab ia
mengharamkan apa-apa yang dihalalkan dalam islam. Sudah menjadi Ijma’ akan
kafirnya siapa saja yang mengaramkan apa yang dihalalkan oleh Allah begitu pula
sebaliknya.
Asal
Usul Monastisisme
Monastisisme
adalah sebuah praktik keagamaan di mana seseorang menyangkali tujuan-tujuan
duniawi dengan maksud agar dapat membaktikan hidupnya semata-mata bagi karya
rohani. (wikipidia.id)
Banyak agama memiliki unsur-unsur
monastik, termasuk Buddhisme, kekristenan, Hinduisme, dan Jainisme, meskipun
ekspresinya berbeda-beda. Orang-orang yang menjalani kehidupan monastik
biasanya disebut monakhos, biarawan, rahib, bruder, frater, atau saudara, jika
berjenis kelamin laki-laki, dan biarawati, rubiah, suster, atau saudari jika
berjenis kelamin perempuan.
Para ahli berbeda pendapat sejak kapan
monastisisme ada, yang jelas praktek konyol ini diperkirakan sudah ada sejak
zaman sebelum adanya agama Nasrani dan Yahudi berkembang. Sebab agama Narani
dan Yahudi yang menerapkan monastisisme sendiri juga menduplikat prakter agama
selainya. Namun menurut keterangan Al Qur’an, praktek monastisisme adalah suatu
praktek taqarrub (penghambaan/pendekatan diri pada Tuhan) yang
diada-adakan oleh manusia sendiri dan bukan atas dasar perintah wahyu.
Monastisisme
dan akal sehat manusia
Jelas
sangat pasti bahwa monastisisme ini bertantangan dengan fitrah manusia yang
memiliki bawaan syahwat dan nafsu terhadap ranah seksualitas. Secara akal
manusia praktek ini sudah tidak bisa diterima, maka dari itu perkara ini
dibantah oleh Allah dan diharamkan dalam islam melalui intruksi langung oleh
Rasulullah saw.
Selain itu pula jika monastisisme ini
dibenarkan maka akan musnahlah seluruh kehidupan manusia, sebab populasi
manusia yang semakin menurun. Sedangkan bukanlah hal yang demikian yang
dikehendaki oleh Allah, Allah sekiranya berkehendak akan senantiasa ada khalifah
di bumi ini untuk menjaga dan melestarikan bumi. Dan khalifah itu tentunya
manusia yang terus melanjutkan (mengkhalifahkan) anak pinak manusia hingga hari
kiamat sampai bumi ini musnah.
Hal ini (monastisisme) sudah bisa
menjadi talak ukur baik-buruknya dan sesat lurusnya suatu ajaran agama, dimana
hanya agama dan aliran kepercayaan yang konyol dan sesat sajalah yang
mengakuinya dan bahkan mendoktrinkan serta mengamalkanya.
Hukum
Monastisime
Monastisisme
atau dalam islam diistilahkan dengan tabattul (membujang) adalah sudah menjadi
Ijma’ ulama(konsensus atau kepastian hukum) akan keharamnya. Umat islam
diharamkan untuk monastisisme.
Menurut Imam Al Qurtubi tabattul
adalah meninggalkan semua kelezatan dan kenikmatan duniawi dan memfokukan diri
pada Allah dengan hanya beribadah. (Tafsir Al Qurtubi :19/44)
Muhammad Ali Ash Shabuni berkata bahwa
tabattul arti yang lebih khususnya bermakna menjauhi wanita (membujang)
dan tidak menikahinya dalam rangka mencari ridho Allah dan dengan alasan hendak
memfokuskan diri hanya beribadah pada Allah.( al Zawaj al Islami al Mubakkir:32)
Imam Al ‘Aini menjelaskan bahwa ‘giat
dengan penuh semangat untuk beribadah pada Allah tidak apa-apa dan baik, namun
jika sampai mengesampingkan diri untuk meninggalkan perkawinan (dengan sengaja)
itu dilarang, sebab nabi tidak pernah mengajarkan seperti itu. Selain juga
banyak nash dari hadist sahih dan al Quran yang mengharamkan membujang dan
memerintahkan untuk menikah demi kemaslahatan dunia dan akhirat. (Syarah al
‘aini ‘ala shahih bukhari :16/259)
Imam Nawawi dan Ibnu Hajar juga
berpendapat sedemikian yaitu mempersilahkan untuk beribadah dengan
sungguh-sungguh namun tanpa mengesampingkan pernikahan. Sebab dalam pernikahan
ini ada tujuan agama dan separuh agama yang harus dijalani. Sebagaimana
meneruskan keturunan, menghindari kekejian (zina), serta penjagaan fitrah
manusia dan ladang beramal shaleh layaknya ibadah (taqarrub ila Allah)
lainya.
Rasulullah
saw bersabda :
"Menikahlah,
karena sesungguhnya aku akan membangga-banggakan jumlah kalian kepada umat-umat
lain pada hari Kiamat, dan janganlah kalian seperti para pendeta Nasrani (-yang
membujang/ monastisisme/tabattul-)." (HR. Al-Baihaqi
(VII/78) dan dikuatkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah dengan
hadits-hadits pendukungnya (No: 1782) )
Hadits ini adalah dasar haramnya
membujang/ monastisisme dan kabar dari Rasulullah saw bahwa benar ada suatu
ajaran monastisisme yang dilakukan oleh pendeta Nasrani, yang kemudian menjadi
doktirn (ajaran) mereka yang sesat.
Adakah
Isa al Masih Menikah ?
Banyak
dari kalangan Nasrani mengklaim bahwa Isa al Masih tidaklah pernah menikah,
meski hal ini kemudian ditentang serta dibongkar sendiri kedustaanya oleh pakar
ilmuan Nasrani dan beberapa riwayat kitab kuno yang ditulis oleh ulama-ulama
Nasrani.
Sebagimana telah ditemukan dalam
papirus kuno yang berebentuk fragmen bahwasanya disebutkan bahwa yesus (Isa al
Masih) menyatakan bahwa ia beristri. Papirus kuno ini diperkirakan dituli pada
masa koptik Mesir kuno yang ada sekitar abad keempat.( the Daily Mail,
Rabu (19/9).)
Mengenai sikap kaum muslimin atas
kabar dari ahlul kitab ini, yaitu kabar dari kalangan Nasrani (Ahlul
kitab)bahwa Isa al Masih tidak menikah. Adalah bahwa umat muslim harus
mengikuti instruksi Rasulullah saw bahwa apabila ada berita perihal nabi-nabi
dari kalangan ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) maka hendaknya tidak membenarkan
dan tidak mendustakan. Cukup sebagai pengetahuan, namun tidak untuk
diyakini,diamalkan atau diingkari begitu saja. (Tafsir Ibnu Katsir :
1/31)
Seorang ulama dari Arab Saudi as
Syaikh Abdurrahman Al Jibrin pernah ditanya perihal kabar bahwa Isa al Masih
tidak menikah sebagaimana yang dikabarkan oleh orang-orang ahlul kitab Nasrani.
Beliau menjawab bahwa kabar tersebut benar termasuk berita israiliyat (berita dari
ahlul kitab Nasrani dan Yahudi) yang dimana tidak boleh diingkari dan
dipercayai (-sebagimana keterangan diatas-). Namun perihal menikah tidaknya
Rasul Allah yaitu Isa al Masih ini, kita selaku umat mukmin wajib mengingkari
oleh sebab berita ini sudah dibantah oleh hadits dari Rasulullah saw bahwa
semua Rasul-Rasul Allah itu menikah, tidak ada yang tidak menikah semua
Rasul-Rasul Allah. Dan Isa al Masih adalah termasuk Rasul Allah.
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu
Ayyub Radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda;
"Ada
empat perkara yang termasuk Sunnah para Rasul: rasa malu, memakai wewangian,
bersiwak, dan menikah." (HR. At-Tirmidzi (No: 1086) kitab an-Nikaah,
dan ia mengatakan: “Hadits hasan shahih.”)
Dalam hadits yang sahih ini jelas
bahwasanya semua Rasul Allah itu menikah selaku sunnah mereka. Dan yang
dinamakan sunnah itu adalah segala sesuatu yang diamalkan, diperintahkan, dan dipertahankan.
Jadi sebagai umat mukmin, mengikuti keumuman hadits ini bahwa semua Rasul Allah
itu menikah lebih harus diikuti ketimbang berita dari ahlul kitab bahwa ada
Rasul Allah (Isa al Masih) yang tidak menikah.(Search : Maktabah Syamilah).
Allahu’alam
[]
Muhammad Fachmi Hidayat
Sumber
: sudah tercantum dalam catatan kaki langsung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar